Markbiss, 30 Agustus 2025 – Perum Perhutani terus memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional melalui program Pengembangan Agroforestry Tebu di kawasan hutan. Hingga Juli 2025, program ini telah terealisasi di lahan seluas lebih dari 17 ribu hektare, dengan melibatkan sekitar 28 ribu pekerja dari masyarakat desa hutan.
Agroforestry tebu dijalankan dengan pola tanam yang memadukan komoditas kehutanan dan pertanian. Konsep ini tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat melalui pola kemitraan dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), koperasi, serta sinergi bersama BUMN dan swasta.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,12%, Publik Pertanyakan Kredibilitas Data BPS
Keterlibatan puluhan ribu pekerja desa hutan menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak nyata, baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar maupun ketersediaan pasokan bahan baku gula nasional. Plt. Direktur Utama Perum Perhutani, Natalas Anis Harjanto, menegaskan bahwa setiap pengembangan agroforestry tebu merupakan langkah untuk menghubungkan kelestarian hutan dengan kebutuhan pangan strategis negara.
“Program agroforestry tebu merupakan wujud komitmen Perhutani untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga fungsi hutan. Melalui pola ini, kami berupaya menghadirkan manfaat ganda, yakni memperkuat pasokan gula nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan.” Ungkapnya.
Jangan Lewatkan: Dukung Masjid Eco-Friendly, Wujud Komitmen Keberlanjutan Pegadaian
Program ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 mengenai percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati. Dengan target pengembangan berkelanjutan hingga 2027, Perhutani menegaskan komitmennya dalam menghadirkan hutan yang produktif, lestari, dan bermanfaat luas bagi masyarakat dan negara.




