Markbiss, 30 Juni 2025 | Google kembali tersandung masalah hukum serius di Asia. Pengadilan Distrik Tokyo menjatuhkan vonis pelarangan penjualan dua model smartphone flagship-nya, yaitu Google Pixel 7 dan Pixel 7 Pro di Jepang. Vonis ini dikeluarkan pada 24 Juni 2025 sebagai buntut dari gugatan perusahaan Korea Selatan, Pantech, atas pelanggaran hak paten teknologi komunikasi LTE.
Dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa Google terbukti melanggar standard essential patent (SEP) milik Pantech—teknologi penting yang menjadi dasar standar industri telekomunikasi global. Hakim menilai Google tidak hanya melakukan pelanggaran teknis, tetapi juga bersikap “tidak tulus” selama proses mediasi dan negosiasi lisensi, sehingga memperberat keputusan untuk melarang penjualan produk tersebut.
Larangan Penjualan Pertama di Jepang
Ini menjadi kasus pertama di Jepang di mana sebuah perusahaan teknologi asing dilarang menjual produknya karena pelanggaran hak paten jaringan seluler. Google pun langsung diperintahkan untuk menghentikan aktivitas impor, promosi, penjualan, maupun pameran Pixel 7 series di pasar Jepang.
Larangan ini tentu menjadi pukulan besar bagi Google, terlebih Jepang merupakan salah satu pasar smartphone yang sangat strategis. Pixel Series sempat mencatatkan performa positif dalam beberapa tahun terakhir, bahkan menempati posisi kedua setelah iPhone di negeri Sakura tersebut.
Ancaman untuk Pixel 8 dan 9
Tidak berhenti sampai di situ, Pantech dilaporkan tengah mengajukan permohonan agar larangan serupa diterapkan pada seri Pixel 8 dan Pixel 9. Meski belum diputuskan, langkah ini membuka kemungkinan bahwa Google bisa dilarang memasarkan generasi terbarunya jika tidak ada kesepakatan lisensi antara kedua belah pihak.
Langkah hukum Pantech ini menegaskan betapa kritisnya isu paten dalam industri teknologi global. Bagi Google, hal ini bisa menjadi awal dari rangkaian tantangan hukum yang lebih luas, terutama di wilayah Asia Pasifik.
Opsi Strategis Google
Menghadapi situasi ini, Google memiliki beberapa opsi strategis. Perusahaan bisa mengajukan banding atas putusan Pengadilan Distrik Tokyo, atau membuka kembali meja negosiasi dengan Pantech untuk mencapai kesepakatan lisensi yang legal dan berkelanjutan.
Selain itu, Google juga bisa merombak desain teknologi modem LTE di masa depan untuk menghindari pelanggaran paten serupa. Namun, langkah ini membutuhkan waktu dan biaya signifikan, serta risiko teknis tinggi.
Masa Depan Pixel di Jepang Tergantung Langkah Selanjutnya
Jika larangan ini diperluas hingga mencakup Pixel 8 dan Pixel 9, maka Google akan kehilangan momentum kuat di pasar Jepang. Padahal, ekspansi Google Pixel di Asia Timur mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Pasar Jepang dikenal sangat inovatif dan kompetitif, serta menjadi barometer teknologi dunia. Kehilangan akses ke pasar ini bukan hanya kerugian bisnis, tetapi juga citra teknologi Google di kancah global.
Saat ini, Google masih belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana mereka. Namun, semua mata tertuju pada respons raksasa Mountain View ini—yang akan menentukan apakah Pixel akan tetap eksis di Jepang atau harus rela mundur perlahan dari persaingan regional.





