Vietnam Capai Kesepakatan Dagang Strategis dengan AS, China Angkat Suara

by -13770 Views
Presiden China, Xi Jinping. (Foto: Xinhua)

Markbiss, 4 Juli 2025 — Vietnam resmi menandatangani kesepakatan dagang penting dengan Amerika Serikat (AS), yang dinilai sebagai langkah strategis di tengah tensi dagang global yang masih memanas. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa tarif impor atas produk asal Vietnam akan diturunkan dari 46% menjadi 20%, sebagai bagian dari kerja sama yang disebutnya sebagai “Great Deal of Cooperation.”

Namun kesepakatan ini juga memicu reaksi keras dari China, yang menilai langkah Washington dan Hanoi bisa merugikan pihak ketiga dan memperkeruh hubungan ekonomi regional.

Baca Juga: Harga Emas Antam dan Pegadaian Naik Signifikan Awal Juli 2025

Apa Isi Kesepakatannya?

Dalam pernyataan resmi, Trump menegaskan bahwa Vietnam setuju untuk membuka akses penuh pasar dalam negerinya bagi produk asal AS. Bahkan, sejumlah produk dari AS disebut akan mendapatkan fasilitas tarif nol persen.

Namun di sisi lain, AS akan tetap memberlakukan tarif sebesar 40% untuk barang-barang yang masuk melalui Vietnam dalam skema yang disebut trans-shipping—yakni produk asing yang dikirim ulang melalui Vietnam, umumnya berasal dari China.

“Vietnam akan membuka pasar mereka sepenuhnya untuk produk kami. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Trump dalam konferensi pers, Rabu (2/7).

Reaksi China: Kesepakatan yang Mengganggu

Pemerintah China menyampaikan penolakannya terhadap bentuk kerja sama yang dilakukan dengan mengorbankan pihak ketiga. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa Beijing selalu mendorong penyelesaian isu ekonomi melalui dialog yang setara.

“Kami tidak menolak kerja sama ekonomi antarnegara, namun kesepakatan semacam ini tidak boleh merugikan kepentingan pihak lain,” kata Mao.

Kementerian Perdagangan China juga menyampaikan nada yang sama. Mereka menyebut bahwa posisi China konsisten dalam menentang tarif sepihak yang merugikan.

Vietnam di Tengah Dua Kekuatan Ekonomi

Vietnam selama ini dikenal sebagai alternatif utama bagi produsen global yang ingin menghindari tarif tinggi akibat perang dagang AS–China. Perusahaan besar seperti Nike, Apple, dan Gap telah memindahkan sebagian produksi mereka ke Vietnam.

Namun, sebagian besar industri manufaktur Vietnam masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari China. Kebijakan tarif terhadap barang-barang yang diduga hasil trans-shipping dikhawatirkan akan memengaruhi kelangsungan industri ini.

Analis dari Capital Economics menyebut bahwa strategi dagang AS masih sangat berfokus pada upaya menekan dominasi China secara tidak langsung.

“Kesepakatan ini lebih dari sekadar perdagangan dengan Vietnam—ini adalah bagian dari strategi besar menghadapi China,” tulis mereka dalam laporan analisis.

Jangan Lewatkan: Permendag 8/2024 Dicabut, UMKM dan Industri Lokal Terancam?

Dimensi Politik dan Bisnis Trump

Dalam momen pengumuman kesepakatan tersebut, muncul pula berita tentang ekspansi bisnis keluarga Trump di Vietnam. Trump Organization diketahui menggandeng pengembang lokal Kinh Bac City Development untuk proyek properti senilai US$1,5 miliar, termasuk hotel mewah, lapangan golf, dan rencana pembangunan Trump Tower di Ho Chi Minh City.

Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, banyak pihak mempertanyakan apakah agenda ekonomi pribadi turut mewarnai kesepakatan ini.

Dampaknya Bagi Negara Lain?

Negara-negara lain termasuk Indonesia kini tengah memantau dinamika ini dengan hati-hati. Trump menetapkan batas waktu hingga 9 Juli untuk negara-negara mitra menegosiasikan ulang hubungan dagang, atau tarif tinggi akan diberlakukan kembali.

Dengan hanya Inggris dan Vietnam yang sejauh ini berhasil mencapai kesepakatan baru, tekanan terhadap negara-negara Asia lainnya pun meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.