Markbiss, 8 Juli 2025 — Insiden kebakaran mobil listrik kembali menyedot perhatian publik setelah sebuah unit Wuling Air EV terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu (5/7/2025). Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, insiden tersebut memicu pertanyaan besar dari masyarakat mengenai penyebab pasti kebakaran dan langkah antisipasi untuk kendaraan listrik.
Pihak SGMW Motor Indonesia selaku agen pemegang merek Wuling di Tanah Air segera merespons kejadian tersebut. Dalam pernyataannya, Maulana Hakim, Aftersales Director Wuling Motors, menegaskan bahwa baterai tegangan tinggi serta motor listrik mobil ditemukan dalam kondisi utuh pasca proses pemadaman.
Baca Juga: Tampil Lebih Segar, Hyundai Stargazer Facelift Segera Mengaspal
Kondisi Baterai Normal
“Komponen baterai tegangan tinggi yang berada di bawah kabin dan motor listrik di bagian belakang mobil ditemukan dalam kondisi normal usai kejadian,” ujar Maulana melalui keterangan tertulis pada Senin (7/7/2025).
Dengan temuan tersebut, pihak Wuling memastikan bahwa api bukan berasal dari elemen kelistrikan utama seperti baterai atau motor penggerak. Menurutnya, kedua komponen tersebut tidak menjadi pemicu insiden kebakaran.
Namun, investigasi lebih lanjut tetap dilakukan guna mengidentifikasi sumber awal api. Titik fokus saat ini adalah area kap depan mobil, tempat port pengisian daya baterai berada. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa api pertama kali muncul dari bagian depan kendaraan.
Upaya pemilik untuk memadamkan api secara mandiri gagal karena keterbatasan alat. Bahkan, sempat terjadi ledakan kecil saat petugas pemadam kebakaran belum tiba di lokasi.
APAR untuk Mobil Listrik
Menurut CEO PT Famindo Alfa Spektrum Teknologi, Willy Hadiwijaya, penanganan kebakaran mobil listrik memiliki tantangan tersendiri. Hal ini disebabkan oleh suhu api yang sangat tinggi—bisa mencapai lebih dari 2.000 derajat Celsius—dan reaksi kimia dari baterai lithium.
“Api dari baterai lithium masuk dalam kategori kebakaran logam atau kelas D. Namun dalam kasus kendaraan listrik, api bisa mencakup beberapa kelas sekaligus karena adanya kombinasi dari baterai, cairan pendingin, material interior, hingga sistem kelistrikan,” jelas Willy.
Oleh karena itu, Willy menyarankan pengguna kendaraan listrik untuk menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan ) khusus berbasis air atau water-based chemical . Jenis ini dinilai lebih efektif dalam menetralkan panas ekstrem dan mencegah reaksi berantai pada elemen baterai.
Sementara itu, untuk mobil konvensional, jenis APAR powder atau karbon dioksida (CO2) masih dinilai efektif.
Wuling sendiri telah menjalin komunikasi dengan pemilik kendaraan melalui jaringan dealer setempat. Bersama pihak-pihak terkait, mereka akan terus melakukan pemeriksaan detail untuk memastikan faktor-faktor teknis yang menjadi penyebab kejadian ini.
Jangan Lewatkan: FlyJaya Resmi Terbang: Layani Rute Jakarta–Yogyakarta Dua Kali Sehari, Tiket Mulai Rp1,1 Juta
Soal Keselamatan Mobil Listrik
Insiden ini juga turut memicu diskusi luas soal keselamatan kendaraan listrik, termasuk perlunya regulasi baru terkait standar penanganan darurat kebakaran kendaraan jenis ini.
Sebagai respons, sejumlah produsen otomotif mulai mengimbau konsumennya untuk membekali kendaraan listrik dengan APAR khusus. Selain itu, beberapa layanan pemadam kebakaran pun mulai menyesuaikan metode dan alat penanganan mereka untuk menghadapi risiko kebakaran baterai lithium.
Sebelumnya, insiden kebakaran Wuling Air EV menyedot perhatian publik lantaran terjadi di ruas jalan protokol Kota Bandung dan direkam warga. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini menjadi catatan penting bagi perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.
Dengan meningkatnya jumlah kendaraan listrik di jalanan, baik dari segi infrastruktur pendukung maupun edukasi pengguna, dibutuhkan persiapan matang agar insiden serupa dapat diminimalisir.





