Markbiss, 23 Juli 2025 – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah mengambil langkah konkret dalam rencana modernisasi armadanya dengan membayar down payment (DP) untuk pembelian 50 pesawat Boeing, sebagian besar berjenis Boeing 777. Meski demikian, proses akuisisi masih dalam tahap negosiasi bisnis antara manajemen Garuda dan pihak Boeing, dan belum mencapai kesepakatan final.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pembayaran DP merupakan bentuk komitmen awal, namun belum mengikat secara hukum. “Garuda menandatangani perencanaan pembelian 50 pesawat, tapi belum deal karena baru sebatas DP-nya saja,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/7/2025).
Baca Juga: AS Turunkan Tarif Impor RI, tapi dengan Empat Syarat Wajib
Rencana pembelian pesawat ini menjadi bagian dari paket kerja sama ekonomi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang mencakup akses pasar ekspor Indonesia ke AS dengan tarif preferensial 19%, serta komitmen impor energi senilai 15 miliar dolar AS dan produk pertanian 4,5 miliar dolar AS.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah menjadikan Garuda sebagai national flag carrier yang kompetitif di tingkat global. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa penguatan Garuda bukan hanya soal transportasi, tetapi juga simbol kedaulatan dan kebanggaan nasional.
Namun, rencana pembelian pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 menuai sorotan. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai jenis pesawat tersebut kurang relevan untuk jaringan domestik yang masih didominasi rute-rute menengah. “Garuda lebih butuh narrow body seperti Boeing 737. Penggunaan 777 di rute lokal berisiko overcapacity dan kerugian operasional,” katanya.
Di sisi lain, dukungan finansial besar telah mengalir untuk mendukung transformasi Garuda. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui PT Danantara Asset Management (Persero) menyalurkan pinjaman senilai US$ 405 juta (Rp6,65 triliun) untuk restrukturisasi bisnis, optimalisasi tata kelola, dan pembiayaan MRO (Maintenance, Repair, Overhaul). Total paket pendanaan mencapai US$ 1 miliar (Rp16 triliun) .
Jangan Lewatkan: Hindari Ancaman Tarif Trump, RI Rela Impor Energi AS Rp 250 T
Direktur Utama Garuda, Wamildan Tsani, menyebut suntikan dana ini sebagai katalis penting dalam transformasi jangka panjang. “Kami tak hanya butuh pesawat baru, tapi juga fondasi bisnis yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan dukungan tersebut, Garuda menargetkan operasi 120 pesawat dalam lima tahun ke depan , didorong oleh pertumbuhan trafik udara yang diproyeksikan tumbuh 8% per tahun. Transformasi juga mencakup digitalisasi layanan dan efisiensi operasional.
Meski ambisius, keputusan pembelian armada harus tetap rasional, bukan semata simbolik. Pasar menunggu kejelasan: apakah langkah ini akan membawa Garuda kembali terbang tinggi, atau justru menambah beban di tengah pemulihan.






