Markbiss, 29 Juli 2025 – Huawei kembali mengukir sejarah di pasar teknologi Tiongkok dengan meraih posisi teratas sebagai merek smartphone paling laris pada kuartal kedua 2025. Data dari firma riset Canalys menunjukkan perusahaan asal Shenzhen tersebut berhasil mengapalkan 12,2 juta unit ponsel di Tiongkok, menguasai pangsa pasar 18% dan unggul tipis atas vivo, OPPO, Xiaomi, dan Apple.
Angka ini mencerminkan pertumbuhan 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi sinyal kuat dari kebangkitan Huawei pasca-krisis akibat sanksi ekspor Amerika Serikat. Kembalinya Huawei ke puncak pasar domestiknya tidak lepas dari strategi inovasi berkelanjutan, khususnya lewat peluncuran seri Nova 14 dan sistem operasi HarmonyOS 5.0 yang terintegrasi penuh dengan ekosistem perangkat Huawei.
Baca Juga: Jack Dorsey Rilis Bitchat, Bisa Chat Meski Offline Total
HarmonyOS 5.0 menjadi salah satu pembeda utama. Berbeda dengan Android atau iOS, sistem operasi buatan Huawei ini dirancang untuk mendukung berbagai perangkat—mulai dari smartphone, tablet, laptop, hingga perangkat rumah pintar—dengan pengalaman pengguna yang mulus dan terhubung. Hal ini menarik minat konsumen Tiongkok yang kian mengutamakan kenyamanan dan integrasi antarperangkat.
“Keberhasilan Huawei bukan sekadar soal spesifikasi atau harga, tapi bagaimana mereka membangun ekosistem yang membuat pengguna betah,” ujar Lucas Zhong, analis Canalys.
Tren ini juga mencerminkan pergeseran preferensi konsumen di Tiongkok menuju produk lokal yang dianggap lebih responsif terhadap kebutuhan lokal dan didukung oleh kebijakan pemerintah dalam mendorong kemandirian teknologi.
Apple Bangkit Perlahan, Tapi Pasar Tiongkok Makin Sulit
Sementara Huawei menanjak, Apple mencatatkan pertumbuhan positif meski masih tertahan di posisi kelima. Perusahaan asal Cupertino itu berhasil mengapalkan 10,1 juta unit iPhone di Tiongkok selama kuartal II 2025, naik 4% dari tahun sebelumnya. Ini menjadi pertumbuhan pertama Apple sejak kuartal IV 2023, setelah sempat terpuruk akibat lesunya permintaan dan dominasi vendor lokal.
Untuk mempertahankan relevansinya, Apple mengandalkan strategi harga yang lebih agresif. Seri iPhone 16 mendapat penyesuaian harga di pasar Tiongkok, ditambah diskon besar di platform e-commerce seperti Tmall dan JD.com. Program trade-in juga diperluas dengan nilai tukar tambah yang lebih menggiurkan, mendorong konsumen untuk beralih ke model terbaru.
Namun, tantangan besar masih menghadang. Pasar Tiongkok kini bukan hanya soal perangkat keras, melainkan ekosistem. Vendor lokal seperti Huawei, Xiaomi, dan vivo menawarkan pengalaman digital yang terintegrasi—dari ponsel ke smartwatch, mobil, hingga perangkat rumah—dengan harga yang lebih kompetitif.
Pasar Smartphone Tiongkok Turun 4%
Selain itu, Canalys mencatat pasar smartphone Tiongkok secara keseluruhan mengalami penurunan 4% dibandingkan kuartal II 2024. Artinya, pertumbuhan yang terjadi lebih bersifat market share shifting—perebutan pangsa antar merek—bukan ekspansi pasar secara umum.
Jangan Lewatkan: OPPO Pad SE Resmi Meluncur di India, Tablet Lengkap dengan Harga Terjangkau
“Apple tetap punya loyalis kuat, terutama di segmen premium. Tapi untuk tumbuh lebih jauh, mereka perlu lebih dari sekadar branding. Mereka butuh ekosistem yang lebih dalam dan relevan secara lokal,” tambah Zhong.
Di tengah stagnasi pasar, program subsidi pemerintah yang sempat mendorong pembelian perangkat digital diperkirakan akan berakhir di paruh kedua 2025. Ini bisa menjadi batu sandungan bagi semua merek, termasuk Huawei, yang kini harus membuktikan bahwa dominasinya bukan hanya didorong oleh insentif sementara.
Dengan persaingan yang semakin ketat dan fokus pasar beralih ke ekosistem digital, kuartal III dan IV 2025 akan menjadi ujian sebenarnya. Huawei telah membuktikan diri mampu bangkit. Kini, giliran Apple dan merek global lainnya untuk menunjukkan apakah mereka bisa tetap kompetitif di pasar yang kian lokal dan terintegrasi.




