Markbiss, 31 Juli 2025 — Google terus mempercepat transformasi digital dengan memperluas integrasi kecerdasan buatan (AI) ke berbagai lini layanannya. Dalam dua pekan terakhir, raksasa teknologi ini merilis sejumlah pembaruan signifikan yang menghadirkan Mode AI tidak hanya sebagai fitur tambahan, tetapi sebagai inti dari pengalaman pengguna di perangkat Android maupun desktop.
Yang paling mencolok adalah peluncuran pintasan langsung ke Mode AI di widget pencarian Google untuk perangkat Android. Melalui pembaruan aplikasi Google versi 16.28, pengguna kini bisa mengakses pencarian berbasis AI hanya dengan satu ketukan dari layar beranda—tanpa harus membuka aplikasi terlebih dahulu.
Fitur ini awalnya terdeteksi oleh pengguna beta pada April 2025, namun sempat hilang secara acak. Kini, dengan kemunculannya di versi stabil, Google menegaskan komitmennya untuk membuat AI lebih mudah diakses oleh semua orang. Pintasan ini muncul di sebelah ikon mikrofon dan kamera dalam widget Google Search, dan tersedia untuk semua perangkat Android, bukan hanya ponsel Pixel.
Baca Juga: Google Dilarang Jual Pixel 7 di Jepang, Seri Terbaru juga Terancam
Untuk mengaktifkannya, pengguna cukup menekan lama widget pencarian, memilih opsi Edit, lalu mengaktifkan Mode AI. Setelah itu, setiap pencarian akan langsung dibuka dalam tampilan penuh Mode AI, menyajikan jawaban yang dikurasi oleh AI, dilengkapi ringkasan kontekstual dan tautan sumber untuk verifikasi.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi Google untuk menjadikan AI sebagai asisten digital harian yang selalu siap—cepat, intuitif, dan terintegrasi secara alami ke dalam rutinitas pengguna.
Namun, akses ke Mode AI tidak berhenti di smartphone. Google juga memperluas kemampuan pencarian berbasis AI di platform desktop dengan serangkaian fitur baru yang lebih canggih.
Salah satunya adalah kemampuan untuk menganalisis dokumen PDF secara langsung dari browser. Pengguna kini bisa mengunggah file PDF ke Google Search, lalu mengajukan pertanyaan kompleks seperti “Apa rekomendasi utama dalam laporan ini?” atau “Temukan data keuangan Q2.” AI akan memproses dokumen, menggabungkannya dengan informasi terpercaya dari web, dan memberikan jawaban yang terstruktur.
Fitur ini sangat berguna bagi pelajar, peneliti, dan profesional yang sering bekerja dengan dokumen teknis. Rencananya, dukungan untuk format lain seperti Word dan Excel akan menyusul dalam beberapa bulan ke depan.
Tak kalah inovatif, Google memperkenalkan Canvas—sebuah panel samping dinamis di Google Search yang berfungsi sebagai workspace digital. Di sini, pengguna bisa menyimpan informasi, melanjutkan percakapan dengan AI dari sesi sebelumnya, bahkan menambahkan file pendukung. Konsepnya mirip dengan asisten pribadi yang membantu menyusun rencana, proyek, atau riset.
Canvas akan diluncurkan bertahap dalam beberapa minggu ke depan, namun saat ini masih terbatas untuk pengguna di Amerika Serikat yang tergabung dalam program eksperimen AI Mode Labs.
Di sisi interaksi visual, Google juga menyempurnakan Search Live. Melalui integrasi Google Lens, pengguna bisa mengarahkan kamera ke objek nyata—seperti mesin rusak atau tanaman—lalu mengajukan pertanyaan langsung. Di desktop, fitur serupa hadir lewat opsi “Ask Google about this page” di browser Chrome, yang memungkinkan AI menganalisis konten halaman web secara real-time.
Jangan Lewatkan: Zuckerberg Umumkan Meta Superintelligence Labs, Dipimpin Alexandr Wang
Meski menjanjikan, ekspansi AI ini tidak lepas dari tantangan. Isu privasi, akurasi informasi, dan keterbatasan akses global menjadi perhatian utama. Google menegaskan bahwa semua respons AI menyertakan tautan sumber dan bahwa data pengguna tetap dilindungi. Namun, banyak pengguna di luar AS, termasuk Indonesia, masih harus menunggu lebih lama untuk menikmati fitur-fitur terbaru ini.
Dengan langkah-langkah ini, Google semakin menegaskan bahwa masa depan pencarian bukan lagi tentang mengetik kata kunci, melainkan tentang berdialog dengan informasi—melalui teks, gambar, dokumen, bahkan video. Dan AI adalah jembatannya.




