Perekonomian RI Tertekan, Sektor Manufaktur Masih Belum Bangkit

by -11354 Views
Foto: freepik.

Markbiss, 2 Agustus 2025 – Sinyal pemulihan ekonomi nasional kembali memudar setelah data terbaru menunjukkan sektor manufaktur Indonesia masih terjebak dalam fase kontraksi selama empat bulan berturut-turut. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur yang dirilis S&P Global pada Jumat (1/8/2025) mencatat angka 49,2 untuk bulan Juli, masih di bawah ambang batas ekspansi 50.

Angka ini memang menunjukkan perbaikan dibanding Juni (46,9), April (46,7), dan Mei (47,4), namun belum cukup kuat untuk membawa sektor industri kembali ke jalur pertumbuhan. PMI yang berada di bawah 50 mengindikasikan aktivitas produksi dan permintaan baru masih menyusut, meski dengan laju yang melambat.

Baca Juga: Tarif Baru Trump Guncang Ekonomi Global: Bursa Anjlok, Investor Was-was Menanti Data The Fed

“Penurunan output dan pesanan baru terus berlangsung di awal kuartal ketiga, tetapi dengan intensitas yang lebih ringan dibanding bulan sebelumnya,” ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence. Namun, ia menekankan bahwa pesanan ekspor kembali menurun, menambah tekanan bagi pelaku industri.

Kontraksi berkepanjangan ini dipicu oleh lemahnya permintaan domestik dan eksternal. Banyak perusahaan melaporkan penurunan pesanan baru, meskipun ada upaya mitigasi melalui pemanfaatan stok barang jadi dan dimulainya beberapa proyek strategis. 

Sayangnya, permintaan dari pasar global kembali melemah untuk ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir, mengindikasikan daya saing ekspor Indonesia masih terbatas.

Tekanan biaya produksi juga menjadi beban tambahan. Harga input, terutama bahan baku dan barang impor, melonjak tajam akibat fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai pasok global, termasuk dampak konflik Iran-Israel yang memperlambat pengiriman. Inflasi input mencapai level tertinggi dalam empat bulan, mendorong perusahaan menaikkan harga jual produk dengan laju tertinggi sejak April.

Namun, kenaikan harga output tetap moderat karena pelaku usaha enggan menekan permintaan yang sudah rapuh. “Biaya yang meningkat sebagian diteruskan ke klien, tetapi dengan hati-hati,” tambah Bhatti.

Dalam upaya efisiensi, perusahaan terus melakukan pengetatan operasional. Aktivitas pembelian bahan baku turun untuk keempat kalinya secara berturut-turut, sementara stok barang jadi dikurangi untuk memenuhi pesanan. Tumpukan pekerjaan (backlog) juga terus menurun, dengan laju penurunan terdalam dalam tiga bulan terakhir.

Jangan Lewatkan: Kanwil DJP Jabar I Gelar Peluncuran Piagam Wajib Pajak: Komitmen Layanan Adil, Transparan, dan Akuntabel

Yang lebih mengkhawatirkan, ekspektasi bisnis terhadap satu tahun ke depan anjlok ke level terendah sejak survei ini dimulai pada April 2012. Kekhawatiran terhadap kebijakan tarif dari Amerika Serikat dan melemahnya daya beli konsumen menjadi sentimen negatif utama. Meski demikian, sebagian produsen masih optimistis, berharap pada pemulihan ekonomi global dan penurunan harga komoditas.

Survei Juli dilakukan sebelum pengumuman perjanjian dagang Indonesia-AS pada 22 Juli, sehingga dampak positif dari kesepakatan tersebut belum terlihat. Harapannya, kerja sama ini bisa menjadi katalis pemulihan di paruh kedua 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.