Markbiss, 6 Agustus 2025 – Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) yang kini marak dibicarakan di tengah masyarakat bukan sekadar tren viral, melainkan sinyal ekonomi yang perlu direspons serius. Istana Kepresidenan menegaskan bahwa fenomena ini menjadi pengingat bahwa daya beli masyarakat tengah tertekan, dan pemerintah tidak boleh menganggapnya sebagai bahan candaan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, meski namanya terdengar lucu, Rojali dan Rohana mencerminkan realitas ekonomi yang kompleks. “Kita terus terang tidak gembira dengan istilah ini. Jangan dijadikan lelucon. Ini adalah lecutan bahwa masih banyak yang harus diperbaiki,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,12%, Publik Pertanyakan Kredibilitas Data BPS
Memadati Mal Tetapi Minim Transaksi
Fenomena ini menggambarkan perilaku konsumen yang tetap memadati mal, tetapi minim transaksi. Mereka datang berkelompok, membandingkan harga, menunggu promo, bahkan hanya bertanya tanpa niat membeli. Dampaknya, pelaku usaha ritel merasakan penurunan omzet meski keramaian tetap tinggi.
Prasetyo menekankan pentingnya penguatan ekonomi melalui dorongan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan optimalisasi anggaran. “Kita harus terus mendorong pertumbuhan ekonomi secara optimal, mengurangi kebocoran seperti yang sering disampaikan Presiden, dan memastikan kebijakan menyentuh rakyat langsung,” ujarnya.
Rojali dan Rohana Alarm Bagi Pemerintah
Anggota Komisi XI DPR Tommy Kurniawan menambahkan, Rojali dan Rohana adalah alarm bagi pemerintah. “Ini bukan lelucon. Ini wajah ekonomi Indonesia yang sedang gelisah. Daya beli melemah, dan jika dibiarkan, bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor rumah tangga sebagai penggerak utama ekonomi. Inovasi kebijakan seperti insentif konsumsi, percepatan bantuan sosial, dan dukungan bagi UMKM dinilai mendesak. “Masyarakat kini sangat selektif. Mereka menunda pembelian, memilih hemat, dan hanya membeli saat benar-benar dibutuhkan,” jelas Tommy.
Jangan Lewatkan: Resmi Buka UMK Digital Fest 2025, Telkom Pacu Semangat Go Digital untuk UMKM
Ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi semester I 2025 hanya mencapai 4,8%, lebih rendah dari target. Jika tren Rojali-Rohana terus berlanjut, pemulihan ekonomi bisa terhambat.
Pemerintah diharapkan tidak hanya merespons secara retoris, tetapi juga mengambil langkah konkret. Kolaborasi dengan pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengembalikan gairah konsumsi dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.




