Surplus Neraca Perdagangan Mei 2025 Tembus US$4,3 Miliar, CPO Jadi Andalan

by -11127 Views
Perkebunan kelapa sawit (Foto: dok infosawit.com)

Markbiss, 1 Juli 2025 – Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Mei 2025 sebesar US$4,3 miliar , menjaga momentum positif selama 61 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus ini didukung oleh ekspor komoditas nonmigas seperti CPO (Crude Palm Oil), bahan bakar mineral, besi dan baja , sementara tekanan defisit masih datang dari sektor migas.

Ekspor Naik Tinggi, Impor Melambat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2025 mencapai US$24,61 miliar , sedangkan impor tercatat sebesar US$20,31 miliar . Pertumbuhan ekspor naik signifikan hingga +9,7% year-on-year (yoy) , lebih tinggi dari pertumbuhan impor yang hanya +4,1% yoy .

Peningkatan ekspor didorong kuat oleh komoditas utama seperti:

  • Lemak dan minyak nabati (HS15): tumbuh +63% yoy
  • Besi dan baja (HS72): naik +48,9% yoy
  • Bahan bakar mineral (HS27)

“Kami melihat ada momentum ekspor yang sangat baik, terutama dari sektor agrikultur dan energi,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini , dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/7/2025).

Tiongkok Masih Jadi Penyumbang Defisit Terbesar

Meskipun surplus secara agregat meningkat, Indonesia masih mengalami defisit dagang dengan beberapa negara mitra utama. Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar sebesar US$8,15 miliar , diikuti Singapura (US$2,79 miliar) dan Australia (US$2,11 miliar).

Sebaliknya, surplus terbesar Indonesia berasal dari ekspor ke Amerika Serikat (US$7,08 miliar) , India (US$5,3 miliar) , dan Filipina (US$3,69 miliar) .

Lambatnya pertumbuhan impor dari Tiongkok, yang turun dari +50% yoy di April menjadi +20% yoy di Mei , memberikan indikasi adanya penurunan aktivitas dumping barang akibat penundaan pemberlakuan tarif baru dari AS.

Inflasi Juni Dipicu Lonjakan Harga Pangan Pasca-Iduladha

Di tengah optimisme surplus perdagangan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi bulanan sebesar +0,2% mom / +1,9% yoy pada Juni 2025. Angka ini lebih tinggi dari prediksi awal yang memperkirakan inflasi hanya sekitar +0,07% mom / +1,8% yoy .

Lonjakan harga pangan pasca-perayaan Iduladha menjadi faktor utama, terutama dari kenaikan harga bawang merah (+4,1%) dan beras (+2,4% yoy) . Selain itu, subkelompok transportasi juga naik +0,2% yoy , dipicu oleh peningkatan aktivitas rekreasi selama libur sekolah.

Meski demikian, analis meyakini tekanan inflasi masih berada dalam rentang aman Bank Indonesia (BI). Dengan kondisi ini, peluang untuk pemangkasan suku bunga BI sebesar 25 basis poin (bps) masih terbuka lebar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli.

Prospek Positif untuk Pertumbuhan Ekonomi Q2 2025

Momentum surplus perdagangan diperkirakan akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun ini. Analis memproyeksikan PDB bisa tumbuh hingga +4,8% yoy dalam periode tersebut.

“Dengan kinerja ekspor yang solid dan inflasi terkendali, prospek makroekonomi Indonesia tetap cerah,” tutup Pudji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.