Markbiss, 5 Juli 2025 — Pemerintah Indonesia terus berupaya menekan dampak kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Sebagai langkah antisipasi, RI berencana meningkatkan impor produk energi, gandum, serta pembelian pesawat Boeing senilai total lebih dari Rp250 triliun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan bahwa pemerintah akan memperbaiki neraca perdagangan dengan menyesuaikan pola impor dari Amerika Serikat. Hal ini termasuk peningkatan pasokan LPG, LNG, dan minyak mentah langsung dari produsen AS, sehingga transaksi bisa dicatat secara transparan dan langsung kepada negara asal.
Baca Juga: Vietnam Capai Kesepakatan Dagang Strategis dengan AS, China Angkat Suara
“Kami sudah melakukan pemetaan kebutuhan energi nasional. Salah satunya adalah peningkatan impor LPG dan crude oil dari Amerika untuk mendukung konsumsi dalam negeri,” ujar Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (4/7).
Impor Gandum Rp 8,09 T
Selain sektor energi, Indonesia juga siap meningkatkan impor gandum senilai US$500 juta atau sekitar Rp8,09 triliun sebagai bagian dari kesepakatan kerja sama bilateral. Franciscus Welirang, Ketua Asosiasi Pabrik Tepung Terigu Indonesia (APTJI), menyatakan bahwa anggota asosiasi akan melakukan tender pembelian dua juta ton gandum dari AS dengan harga kompetitif.
Langkah ini disambut baik oleh pelaku industri penggilingan gandum nasional, yang selama ini bergantung pada pasokan dari Australia dan Argentina. Dengan adanya diversifikasi sumber impor, diharapkan stabilitas pasokan bahan baku bisa lebih terjaga.
Rencana Pembelian 75 Unit Boeing
Di sektor transportasi udara, maskapai Garuda Indonesia kabarnya sedang membahas rencana pembelian 75 unit pesawat produksi Boeing. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari manajemen Garuda, rencana tersebut akan menjadi bagian dari nota kesepahaman yang akan ditandatangani minggu depan.
Pemerintah juga telah meminta AS untuk menurunkan tarif bea masuk atas produk ekspor utama Indonesia, seperti elektronik, tekstil, dan alas kaki. Selain itu, dibuka peluang investasi bagi perusahaan AS dalam pengelolaan sumber daya mineral strategis seperti tembaga, nikel, dan bauksit.
Jangan Lewatkan: Anggarkan Rp 250 M, Subsidi Motor Listrik Kembali Digulirkan
Langkah diplomasi ekonomi ini merupakan respons terhadap kebijakan proteksionis AS yang semakin ketat. Surplus perdagangan Indonesia tercatat mencapai US$17,9 miliar pada 2024, membuat RI menjadi salah satu mitra dagang yang dinilai memiliki defisit signifikan oleh AS.
Pemerintah optimistis, melalui pendekatan multilateral dan tawaran kerja sama konkret, hubungan ekonomi antara kedua negara dapat tetap terjaga tanpa merugikan kepentingan nasional Indonesia.





