Markbiss, 10 Juli 2025 – Kinerja industri otomotif nasional pada semester pertama tahun 2025 masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat bahwa penjualan mobil secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke diler hanya mencapai 374.741 unit selama Januari–Juni 2025, turun 9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pada bulan Juni sendiri, angka distribusi tercatat sebesar 57.760 unit, atau anjlok 23 persen secara tahunan (Year over Year/YoY ) dan 5 persen secara bulanan (Month over Month/MoM ). Ini merupakan pencapaian bulanan terendah sepanjang tahun ini, meskipun April juga sempat tertekan akibat libur Lebaran.
Baca Juga: Xpeng Perluas Jaringan dan Produksi Lokal, Targetkan 6 Dealer di Jabodetabek
Dengan realisasi tersebut, pencapaian semester I baru setara 42–50 persen dari target Gaikindo untuk keseluruhan tahun 2025 yang berada di kisaran 750.000 hingga 900.000 unit. Jika dibandingkan dengan semester I 2024, capaian tahun ini juga lebih rendah karena saat itu realisasi sudah mencapai 47 persen dari target tahunan.
Merek Jepang Masih Lesu, China Justru Menguat
Sebagian besar merek otomotif asal Jepang masih menghadapi tekanan penjualan. Baik Toyota maupun Daihatsu yang merupakan dua merek utama Astra International ($ASII), maupun merek Jepang di luar ASII, secara umum belum mampu menunjukkan perbaikan signifikan. Satu-satunya pengecualian adalah Suzuki yang berhasil membukukan pertumbuhan positif pada bulan Juni 2025.
Di sisi lain, merek-merek asal Tiongkok justru terus menunjukkan momentum positif. Salah satunya adalah Chery yang mencatatkan penjualan bulanan di atas 2.000 unit untuk pertama kalinya. Sementara BYD, termasuk model Denza, serta Wuling, turut meningkatkan kontribusinya dalam pasar otomotif nasional.
Secara posisi, BYD dan Chery masing-masing menduduki peringkat keenam dan ketujuh sebagai merek dengan penjualan tertinggi pada bulan Juni, naik dari posisi kesembilan dan kesepuluh di akhir tahun 2024.
Perubahan Pangsa Pasar
Market share gabungan Toyota dan Daihatsu turun dari 52,5 persen pada semester I 2024 menjadi 50,2 persen pada semester I 2025. Sementara Honda menjadi merek yang mengalami penurunan pangsa pasar terbesar, yaitu dari 11,6 persen menjadi 8,7 persen.
Sedangkan BYD (termasuk Denza) mencatat lonjakan market share dari hanya 0,4 persen menjadi 5,3 persen, sedangkan Chery naik dari 1 persen ke 2,7 persen.
Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, menyatakan bahwa pihaknya tengah berdiskusi intensif dengan pemerintah untuk mencari terobosan yang bisa mendorong permintaan mobil di dalam negeri. Beberapa opsi yang sedang dikaji antara lain insentif fiskal dan reformasi perpajakan kendaraan bermotor.
“Kami berharap solusi yang tepat dapat segera diimplementasikan agar industri otomotif bisa bangkit dan mencapai target yang direncanakan,” ujar Nangoi.
Jangan Lewatkan: Pasar Mobil Indonesia Lesu, BYD dan Chery Justru Melesat di Semester I
Analisis: Belum Saatnya Saham Otomotif Pulih
Meski ekspektasi pasar terhadap sektor otomotif relatif rendah, tren penjualan yang kembali memburuk dalam dua bulan terakhir membuat potensi pemulihan pada saham-saham otomotif seperti $ASII, $AUTO, dan $DRMA belum terlihat nyata. Insentif yang signifikan dari pemerintah dinilai masih diperlukan untuk mendorong rebound sektor ini.
Namun, kuatnya penjualan mobil listrik dari BYD memberikan dampak positif bagi operator logistik. Volume throughput bongkar muat mobil Completely Built-Up (CBU) yang ditangani oleh operator pelabuhan (diasumsikan $IPCC) mencapai 348.500 unit selama lima bulan pertama tahun 2025, naik 9 persen secara tahunan.
Peningkatan ini tidak lepas dari strategi agresif produsen mobil asal Tiongkok dalam menawarkan harga kompetitif serta inovasi teknologi ramah lingkungan yang semakin diminati masyarakat.





