Markbiss, 16 Jauli 2025 – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar Kamis (16/7/2025). Meskipun rupiah menunjukkan penguatan dalam beberapa waktu terakhir, tekanan risiko global membuat bank sentral cenderung bersikap hati-hati.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyampaikan bahwa meski ada tren apresiasi rupiah yang membuka ruang untuk pelonggaran moneter, dinamika eksternal masih menjadi ancaman besar bagi stabilitas ekonomi domestik.
“Kami perkirakan BI akan memilih untuk menahan suku bunga pada RDG bulan ini. Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi inti yang masih berada di jalur yang terkendali,” ujar Josua kepada CNBC Indonesia, Selasa (15/7).
Baca Juga: Permintaan Listrik Naik, Harga Batu Bara Global Terus Menguat
Ketegangan Perdagangan Global
Salah satu faktor utama yang membuat BI enggan melakukan pemangkasan adalah kembali memanasnya ketegangan perdagangan global, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana tarif tambahan hingga 100% terhadap mitra dagang Rusia. Langkah tersebut memicu kembalinya sentimen risk-off di pasar keuangan dunia.
Meski Indonesia tidak secara langsung masuk dalam target, Trump tetap mempertahankan tarif sebesar 32% terhadap produk ekspor Indonesia, seperti yang diputuskan pada April lalu. Hal ini turut memberi tekanan pada aliran modal asing di pasar domestik.
Josua menambahkan bahwa jika kesepakatan dagang antara AS dan Indonesia tercapai sebelum tenggat waktu 1 Agustus, maka peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% bisa terbuka pada RDG September mendatang.
Potensi Tekanan Inflasi
Selain itu, ia juga mencatat adanya potensi tekanan inflasi dari implementasi cukai baru untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada semester II-2025. Kebijakan ini bisa mendorong inflasi inti naik bertahap, dan menjadi pertimbangan penting bagi BI.
Di sisi lain, Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI, juga memperkirakan BI akan menahan suku bunga pada bulan ini. Ia menilai pelemahan dolar AS secara global telah membantu penguatan rupiah, namun belum cukup kuat untuk mendorong langkah agresif pelonggaran moneter.
“Dengan musim ajaran baru, liburan panjang, serta kemungkinan kenaikan harga BBM non-subsidi, inflasi bisa kembali meningkat. BI perlu waspada,” katanya.
Jangan Lewatkan: Peringatan Hari Pajak 2025: “Pajak Tumbuh, Indonesia Tangguh”
Laju Inflasi Tahunan 1,87%
Sementara itu, laju inflasi tahunan tercatat sebesar 1,87% pada Juni 2025, masih berada dalam rentang target BI sebesar 2,5±1%. Di sisi pasar keuangan, investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp7,9 triliun selama 7–10 Juli 2025, memutus tren positif dua minggu sebelumnya.
Rupiah sendiri sempat menyentuh posisi Rp16.180/US$1 awal bulan ini, level terkuat sejak akhir Januari. Namun, data terbaru menunjukkan mata uang Garuda berada di kisaran Rp16.240/US$1.
Keputusan BI besok akan menjadi penentu arah kebijakan moneter di paruh kedua tahun ini, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan eskalasi proteksionisme perdagangan.





