Markbiss, 6 Agustus 2025 – Struktur ekspor Indonesia kembali membuktikan transformasi yang signifikan. Di semester pertama 2025, ekspor nasional tumbuh 7,70% secara tahunan (year-on-year), melampaui target pemerintah sebesar 7,10%. Yang lebih menonjol, sektor nonmigas kini menjadi penopang utama, dengan kontribusi mencapai USD128,39 miliar atau 94,8% dari total ekspor senilai USD135,41 miliar. Angka ini menandai pergeseran mendasar dari ketergantungan pada komoditas tambang dan migas menuju produk bernilai tambah tinggi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, pertumbuhan ekspor nonmigas yang mencapai 8,96% (yoy) menjadi bukti nyata penguatan struktur ekonomi nasional. “Ini bukan hanya soal angka, tapi momentum transformasi ekonomi yang kita dorong selama ini,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (4/8).
Baca Juga: Rojali-Rohana Jadi Alarm Ekonomi, Pemerintah Diminta Tindak Lanjut dengan Kebijakan Nyata
Ekspor Migas Kontraksi 11,04%
Sementara itu, ekspor migas justru mengalami kontraksi 11,04% menjadi USD7,03 miliar, menambah tekanan pada sektor yang sejak awal tahun menghadapi volatilitas harga global. Akibatnya, neraca perdagangan migas mencatat defisit USD8,83 miliar. Namun, surplus dari sektor nonmigas yang mencapai USD28,31 miliar mampu menopang neraca perdagangan nasional secara keseluruhan dengan surplus USD19,48 miliar di semester I 2025—naik dari USD15,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Yang menarik, momentum ekspor ke Amerika Serikat menguat signifikan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, kinerja ekspor kuartal II 2025 melonjak 10,67% (yoy), didorong oleh aksi front loading atau percepatan pengiriman barang. Hal ini terjadi menyusul pengumuman kebijakan tarif resiprokal dari Presiden AS Donald Trump yang akan diberlakukan mulai 7 Agustus 2025 dengan besaran 19%.
“Banyak importir AS mempercepat pemesanan produk Indonesia sebelum tarif resmi diberlakukan. Ini menciptakan lonjakan sementara, tapi sangat membantu kinerja ekspor di paruh pertama tahun ini,” jelas Sri Mulyani, Selasa (5/8).
AS Mitra Dagang dengan Surplus Tertinggi
AS menjadi mitra dagang dengan surplus tertinggi bagi Indonesia, mencapai USD9,92 miliar. Meski secara bilateral masih defisit dengan Tiongkok, negara tersebut tetap menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD29,31 miliar, diikuti AS (USD14,79 miliar), India, Jepang, dan Malaysia.
Jangan Lewatkan: Ekonomi Tumbuh 5,12%, Publik Pertanyakan Kredibilitas Data BPS
Pemerintah mengaku tetap waspada. Pasca penerapan tarif AS, diperlukan strategi antisipatif untuk menjaga momentum ekspor. Diversifikasi pasar dan penguatan produk bernilai tambah menjadi fokus utama. Optimisme juga datang dari impor bahan baku dan barang modal yang naik 12,17%, menandakan pulihnya aktivitas manufaktur dalam negeri.
“Kita harap momentum ini bisa terjaga di kuartal III dan IV, sekalipun tarif AS sudah berlaku,” pungkas Sri Mulyani.





