Markbiss, 2 Agustus 2025 – Pasar keuangan global mengalami gejolak hebat pada awal Agustus 2025, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan kenaikan tarif impor terhadap puluhan mitra dagang utama AS.
Langkah proteksionis ini memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham dunia, dari Wall Street hingga Eropa dan Asia, sekaligus memperuncing ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Kebijakan yang diumumkan pada Kamis malam (31/7/2025) itu mencakup tarif bea masuk hingga 50% untuk Brasil, 35% untuk Kanada, 25% untuk India, 20% untuk Taiwan, dan 19% untuk negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Produk dari Korea Selatan dikenai tarif 15%, sementara Meksiko diberi pengecualian sementara selama 90 hari sebagai insentif untuk negosiasi perdagangan lebih luas. Kebijakan ini mulai berlaku secara resmi pada 7 Agustus 2025, memberi waktu sempit bagi perusahaan dan pemerintah untuk menyesuaikan strategi.
Baca Juga: Vietnam Capai Kesepakatan Dagang Strategis dengan AS, China Angkat Suara
Dampak langsung terasa pada perdagangan Jumat (1/8/2025). Indeks saham Eropa, Stoxx 600, anjlok 1,89% dalam satu hari dan terkoreksi 1,7% secara mingguan—penurunan terbesar sejak April 2025. Di Asia, MSCI Asia Pacific ex-Japan turun 1,5%, dengan pasar saham Hong Kong, Tiongkok, dan Jepang juga terkoreksi.
Wall Street tak luput: Dow Jones turun 1,23%, S&P 500 merosot 1,6%, dan Nasdaq Composite—yang banyak dihuni perusahaan teknologi—jatuh 2,24%. Ketiga indeks ini menjadi indikator utama sentimen investor di AS.
Para analis menilai kebijakan ini lebih agresif dari yang diperkirakan. “Pengumuman tarif ini lebih buruk dari ekspektasi pasar,” ujar Wei Yao, Kepala Riset dan Ekonom Asia di Société Générale. Meski pelaku pasar sudah terbiasa dengan narasi proteksionis Trump, kenaikan tarif di atas 20% tetap memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan rantai pasok global.
Langkah Trump juga berdampak langsung pada kebijakan moneter The Fed. Dengan kenaikan tarif berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi melalui kenaikan harga impor, ekspektasi pemotongan suku bunga pada September 2025 semakin memudar.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang penurunan suku bunga kini hanya 39%, turun tajam dari 65% sebelum pertemuan The Fed pekan lalu. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun naik tipis ke 4,382%, sementara dolar AS menguat 1,5% sepanjang pekan, menyentuh level 100 pada indeks dolar—penguatan mingguan terbesar sejak akhir 2022.
Di pasar komoditas, minyak mentah Brent turun ke 71,46 dolar per barel, sementara WTI AS berada di 68,99 dolar. Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran permintaan global yang lesu akibat potensi perlambatan ekonomi. Di sisi lain, emas naik tipis ke 3.294 dolar per ons sebagai aset safe haven yang masih diminati investor di tengah gejolak.
Fokus pasar kini beralih ke data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan depan. Angka penambahan lapangan kerja (Non-Farm Payrolls) dan tingkat pengangguran akan menjadi penentu utama apakah The Fed tetap pada sikap hawkish atau mulai membuka ruang untuk pelonggaran. Perkiraan pasar menyebutkan penambahan 110.000 lapangan kerja di Juli, dengan tingkat pengangguran naik tipis ke 4,2%.
Jangan Lewatkan: AS Turunkan Tarif Impor RI, tapi dengan Empat Syarat Wajib
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kebijakan ini menjadi ancaman serius. Dengan tarif 19% yang akan dikenakan pada produk ekspor seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik, neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi bisa terdampak. Pemerintah kini diminta untuk mempercepat diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat diplomasi ekonomi.
Stephen Miran, Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih, membela kebijakan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tawar AS dalam negosiasi dagang. Namun, banyak ekonom memperingatkan bahwa ketidakpastian yang diciptakan justru bisa menghambat investasi dan memicu reaksi balasan dari mitra dagang.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih rapuh, kebijakan Trump kembali menjadi katalis utama volatilitas.






