Markbiss, 13 Juli 2025 – Harga batu bara global terus menunjukkan tren penguatan pada pekan ini. Penguatan ini dipicu oleh kombinasi faktor musiman, lonjakan permintaan listrik di kawasan Asia dan Eropa akibat gelombang panas, serta kebijakan energi terbaru dari Amerika Serikat (AS) yang mengisyaratkan akan mengurangi subsidi untuk energi terbarukan.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak bulan Agustus 2025 mencapai US$115,1 per ton, naik sekitar US$1,6 dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga batu bara di pasar Rotterdam juga meningkat, didukung oleh pemulihan penggunaan energi fosil di Uni Eropa.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Satu Harga LPG 3 Kg, DPR RI Dukung Penuh dengan Catatan Pengawasan Ketat
Pengurangan Subsidi Energi Alternatif
Menurut Girta Yoga, Analis R&D ICDX, sentimen positif utama berasal dari rencana kebijakan AS yang akan mengurangi dukungan finansial bagi proyek tenaga surya dan angin. Hal ini membuka peluang bagi penggunaan batu bara sebagai alternatif pasokan energi dalam jangka pendek.
“Selain itu, musim panas di belahan bumi utara telah memicu lonjakan permintaan listrik, terutama untuk pendinginan ruangan,” ujar Yoga.
Negara seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa mulai bergantung lagi pada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menjaga kestabilan pasokan energi.
Pemicu Permintaan Batu Bara
Filipe Gouveia, Analis Pengiriman Global dari BIMCO, menambahkan bahwa cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama yang memicu permintaan batu bara. Namun, ia menilai kenaikan ini hanya bersifat sementara.
“Permintaan akan kuat selama musim panas, tetapi secara jangka panjang, transisi energi dan penurunan permintaan baja akan terus menekan harga batu bara,” katanya.
Jangan Lewatkan: Medco Energi Salurkan Rp4,2 Triliun untuk Anak Usaha
Meski begitu, beberapa negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan masih menjadi motor penggerak permintaan batu bara dunia.
Penguatan harga saat ini diperkirakan akan memberikan dorongan positif bagi eksportir besar seperti Indonesia, yang memiliki kapasitas produksi dan ekspor yang tinggi.
Namun, tantangan jangka panjang tetap ada, terutama dengan semakin ketatnya komitmen global terhadap dekarbonisasi dan net-zero emissions.






